Membedakan mana Cinta yang Asli dan Bukan

Membedakan mana Cinta yang Asli dan Bukan

Sebetulnya aneh enggak, sih, ketika pertanyaan ini bisa sampai muncul di pikiran? Terlebih saat sedang cinta-cintanya terhadap sesuatu. Emang bakal sempat gitu kepikiran? Also, is there even such a thing as fake love? Tapi realitanya... ketika aku mengamati lingkungan sekitarku selama ini... fake love do exist. Perasaan atau hubungan yang kelihatannya kayak cinta, tapi sebetulnya tidak. Sesimpel seseorang yang masih akan bertahan di hubungan yang sudah jelas toxic. Penyangkalan yang dilakukan berulang kali karena alasan cinta, ternyata hanyalah keterikatan yang sedang mencekiknya secara perlahan.

Kondisi ini tentu jarang bisa disadari karena ia terjadi saat kamu sedang cinta-cintanya, yang mana tanpanya kamu tidak terbiasa, sehingga diri terus-menerus menyangkal realita walaupun itu buruk sekali pun. Dengan sedikit rayuan, rasanya gampang sekali luluh, dan masih ingin terus mencoba menaklukkan realita yang sebenarnya. Artinya, kesadaran sedang ada di tahap bias-biasnya. Analoginya sama ketika kamu sedang menaiki roller coaster, rasa senang tentu menjadi 'default' dan fokusmu hanya menikmati sensasinya. Ketika barang jatuh pun kamu enggak sadar. Jadi, satu-satunya yang bisa menyalamatkan hanyalah kesadaran dirimu, yang mana kesadaran ini hanya bisa didapatkan ketika kamu sudah mencintai dirimu sendiri sepenuhnya, tanpa bantuan apa pun dari luar diri. Dengan ini, tentu kamu akan dengan mudah menyadari bahwa ternyata ada jalur di roller coaster yang rusak, dan memutuskan untuk tidak menaikinya karena ia bisa membunuhmu.

Lalu, bagaimana cara paling jelas untuk membedakan mana cinta yang asli dan bukan?

Sebelumnya, kalian harus pahami dulu bahwa cinta yang asli hanya bisa dikenali ketika kamu sudah mencintai dirimu sendiri sepenuhnya. Dengan menerangi semua sisi gelapmu dan berdamai dengannya. Karena hanya pada saat itulah cahaya baru akan bisa sampai di sisi ruang gelap tersebut dan meneranginya, sehingga kamu bisa melihat ruangan itu dengan jelas. Dengan cahaya ini kamu baru bisa memberikan dirimu cinta yang sesungguhnya, yang nantinya akan bermuara ke hal-hal yang kamu cintai di luar dirimu.

Karena konsep cinta, sejatinya adalah perasaan dari dalam yang mengalir keluar, jadi wadahnya harus baik dulu, sehingga ia bisa keluar dengan baik. Maka ketika aku bilang "my love" kepada pasanganku, bukan berarti aku mengklaim bahwa dia adalah milikku, melainkan cintaku yang ada di dalam dirinya (karena aku sudah penuh dengan cintaku sendiri). Jadi ketika tiba-tiba dia berubah, sudah tidak mencintaiku lagi misalnya, yang hilang hanyalah cintaku yang ada pada dirinya. Sementara aku masih dalam status yang sama, full dengan cintaku sendiri.

Ini adalah kunci untuk mematikan bisanya (bias). Bukankah ini adalah hal yang indah? Ketika kamu bisa sadar bahwa kamu mencintainya, bahkan tanpa bias apa pun. Murni karena kamu memang memilihnya dengan kesadaran penuhmu. Nah, dengan menyadari bahwa mencintai diri adalah kunci dari cinta yang sebenarnya, barulah kamu bisa merasakan cinta yang asli karena tidak adanya bias tadi (murni).

Mungkin dari kalian ada di posisi yang bingung bagaimana caranya mencintai diri? Duduk. Di mana pun. Dengarkan isi pikiranmu. Pertanyakan berbagai hal tentang dirimu pada dirimu sendiri. Sesimpel "Kenapa aku bereaksi seperti ini?", "Aku sukanya apa, ya?" Banyak sekali pertanyaan yang akan muncul dengan sendirinya ketika kamu meluangkan waktu dengan dirimu sendiri. Tanpa distraksi apa pun. Just you and nature. Pertanyaan itu perlahan akan muncul dan kamu akan bisa menjawabnya satu per satu seiring berjalannya waktu. Percayalah.

Sekarang, mari mulai masuk ke caranya...

Kalau kalian sadari dari awal, inti masalah sebetulnya adalah kelekatan. Saat kalian menyadarinya, maka kalian akan dengan mudah mampu untuk membedakan mana cinta yang asli dan yang bukan. Attachment (kelekatan) di sini bukan hanya "ketergantungan", tapi juga keterikatan yang membuat kita ingin mengendalikan atau mempertahankan sesuatu agar ia tidak berubah.

Karena cinta adalah kemampuan untuk memeluk seseorang dengan keterbukaan. Sikap menerima, tidak menguasai, dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri. Sedangkan kelekatan adalah tuntutan agar yang kamu cintai harus tetap seperti apa yang kamu inginkan, keterikatan yang membuat kita ingin mengendalikan dan mempertahankan sesuatu agar tidak berubah.

Ketergantungan membuatmu sering khawatir. Ini bukan konsep cinta yang sesungguhnya. Karena ketika kamu sungguh mencintai sesuatu, kamu tidak akan mengkhawatirkan apa pun tentangnya karena fokusmu hanyalah mencintai dan bagaimana ia bisa menjadi sumber inspirasimu. Bahkan, sama sekali tidak mengharapkan timbal balik apa pun. Karena sekali lagi, fokusnya hanyalah mencintai.

"The one who's in love always wins" Pernah dengar kata-kata ini? Ethan Hawke (pemeran dari film Before Trilogy) ketika diwawancarai pernah bilang, "Matahari tidak berharap apakah rumput menghargai sinarnya atau tidak." Kenapa? karena dia matahari, ia akan terus memancarkan cahaya & kehangatannya. Dia bersinar karena memang itu sifatnya, bukan karena berharap rumput akan menyadarinya. Lihat bagaimana tidak ada kelekatan di sana? Begitu pun sebaliknya, rumput akan terus tumbuh. Ia menerima cahaya jika cahaya datang. Jika suatu hari mendung, dia tetap menjadi rumput. Ia tidak meminta matahari untuk bersinar lebih lama.

Selama masih ada ketakutan akan kehilangan dan penderitaan saat berpisah, yang ada bukanlah cinta, melainkan kelekatan. Sebab cinta adalah akhir dari segala ketakutan.

Mungkin di pikiranmu sekarang terbersit, "Gimana mungkin coba mengatakan bahwa cinta adalah akhir dari rasa takut? Yang ada justru semakin dalam aku mencintai seseorang, semakin besar rasa takutku jika harus kehilangan mereka." yang mana ini sangat manusiawi dan bisa dipahami.

Ketakutan itu bisa muncul ketika pikiran mulai berkata bahwa, "Ini milikku.", "Ini harus tetap tinggal.", "'Ini tidak boleh berubah." Kamu takut kehilangan seseorang karena pikiranmu sendiri yang yakin, 'Kalau dia pergi, sebagian dari diriku juga akan ikut runtuh.' Jadi sebenarnya, ketakutan di sini bukan lahir dari jiwa yang kamu cintai, tapi tentang identitas dirimu sendiri.

Apa pun yang bisa dimiliki, suatu hari pasti bisa pula direnggut. Ketika sebuah jiwa mulai disebut sebagai 'kekasihku', 'ibuku', atau 'temanku', saat pikiran melekatkan kata 'milikku' padanya, tiba-tiba ketenanganmu mulai bergantung pada kehadirannya. Tiba-tiba kepergiannya menjadi sebuah ancaman, waktu menjadi lawan, dan kematian menjadi sesuatu yang mengerikan. Bukan karena cinta adalah sebuah kesalahan, tetapi karena kepemilikan yang telah menyusup ke dalam cinta.

Inget, bukan berarti hubungan seperti ibu, pasangan, atau teman itu salah, ya. Maksudnya lebih ke perubahan cara pandangnya. Yang seharusnya kita memandangnya sebagai, "Aku bersyukur bisa mengalami hubungan dengan seseorang", Tapi yang sering terjadi malah, "Orang ini adalah bagian dari diriku dan harus tetap ada agar aku baik-baik saja." Karena di titik inilah cinta mulai bercampur dengan kepemilikan.

Kepemilikan ini mengubah hubungan menjadi ketergantungan. Ketergantungan membuat perubahan terasa seperti bahaya. Padahal hakikat kehidupan sendiri adalah perubahan. Bahkan tubuh kita diciptakan untuk bergerak. Karena inilah, segala sesuatu yang kita anggap bisa kita miliki pada akhirnya akan menciptakan ketakutan.

Balik lagi! Inilah kenapa, ketika aku bilang "my love" kepada pasanganku, bukan berarti aku mengeklaimnya menjadi milikku, melainkan cintaku yang ada dalam dirinya.

Coba perhatikan lebih dalam lagi. Kamu enggak akan pernah bisa benar-benar memiliki sebuah jiwa. Kamu cuma bisa mengalaminya. Tubuhnya akan berganti. Perannya akan larut. Bentuknya akan menghilang. Tapi cinta yang kamu alami tidak pernah tersimpan di dalam diri mereka sebagai sebuah kepemilikan. Bingung?

Biasanya kita berpikir: "Semua perasaan itu berasal dari dia."

Tapi sebenarnya tidak. Karena yang sebenarnya terjadi adalah: Perjumpaan dengan orang itu hanya membangkitkan kapasitas mencintai yang memang sudah ada dalam dirimu sedari awal. Jadi cintanya bukan tersimpan di dalam dirinya seperti uang di dompet yang bisa diberikan kepadamu kapan aja.

Analogi simpelnya: Ada seorang guru yang bikin kamu cinta sama matematika. Apakah guru itu menaruh rasa cinta matematika ke dalam dirimu? Ya, tidak. Dia hanya membuat sesuatu yang sebelumnya belum kamu sadari menjadi hidup. Begitu pula pasangan. Mereka tidak "menyimpan" cinta untuk diberikan kepadamu. Mereka hanya menjadi pemicu munculnya cinta yang ada dalam dirimu.


Jadi, mampukah kamu menjalin hubungan tanpa rasa memiliki? Mampukah kamu berkata, "Kamu bersamaku," alih-alih, "Kamu milikku"? Mampukah kamu mencintai tanpa menjadikan orang lain sebagai penopang dari identitas dirimu? Di sinilah ketika semua rasa takut itu akan berakhir.

Aku juga mengerti bahwa apa yang kita rasakan adalah kelekatan. Dan, kenapa kita harus melalui semua rasa takut dan penderitaan ini sejak awal?

Karena tidak ada satu orang pun yang bisa begitu saja diberi tahu bahwa sumber cinta mereka sebenarnya ada di dalam dirinya sendiri. Kamu memang harus menemukannya melalui pengalaman. Sama halnya ketika aku ngomong ke anak kecil, "Pasti kamu bisa jalan," ini enggak akan berarti apa-apa untuknya. Ia tetap harus jatuh. Ia tetap harus merangkak, sebelum akhirnya bisa berdiri, karena pertumbuhan membutuhkan tahapan. Begitu pula kelekatan, ia adalah tahapan untuk mengenal apa itu cinta yang sebenarnya.

Dalam kelekatan, orang lain yang memegang kunci dari kebahagiaanmu. Kamu percaya bahwa, "Mereka yang membuatku bahagia", "Mereka yang memberiku cinta", "Mereka adalah sumber cintaku." yang akhirnya membuatmu melekat. Tapi perlahan, dari semua patah hati, kecemburuan, kerinduan, dan kehilangan yang kamu alami, perlahan kamu akan mulai menyadari bahwa cinta yang kamu rasakan selama ini ternyata tidak pernah dimulai dari dalam diri mereka. Cinta itu sebenarnya selalu muncul dari dalam dirimu sendiri. Dia bukan sumber cintamu. Dia hanya menjadi jalan yang membuatmu sadar bahwa selama ini, ternyata sumber itu ada pada dalam dirimu.