Rasanya Jatuh Cinta

Rasanya Jatuh Cinta

Sedang hujan di luar, so... why not to write about something romance while my curiosity at its peak right now?

Masih inget, nggak, rasanya jatuh cinta? Jatuh cinta terhadap sesuatu—entah itu seseorang, aktivitas, benda atau bahkan terhadap kehidupan itu sendiri. Oh, romansa...

But hey, romance is not always about people, you know? Kadang aku heran mengapa kata romansa selalu instan ditautkan dengan dua manusia yang saling bercinta. Padahal, ia juga bisa diaplikasikan terhadap kehidupan itu sendiri. Dan sejujurnya, inilah kenapa aku suka sekali dengan romansa pada umumnya. Karena ia bukan hanya tentang manusia.

Dipikir-pikir jatuh cinta itu sangat menghidupkan kehidupan itu sendiri, ya? Semuanya terasa menjadi lebih berwarna. Mungkin karena jantung berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya ketika memikirkan dan merasakannya, sehingga semua indra menjadi begitu sensitif terhadap segala hal tentangnya. Seakan jiwa dan raga mengirimkan energinya kepada semesta. Hal sekecil apa pun tentang hal yang kita cintai rasanya mudah sekali untuk diingat, dan rasanya akan sukar untuk dilupakan. Yang ada ia hanya akan makin menggema ke sekujur tubuh.

Kapan terakhir kali kalian merasakan perasaan ini? Gut feeling yang muncul bertubi-tubi, dan anehnya ia selalu bisa dirasakan dan dipahami walaupun tanpa penjelasan yang logis sekali pun. Dan entah kenapa setiap momennya begitu selaras dan terhubung satu sama lain. Semesta juga seakan ikut mengiyakan dengan mengirimkan sinyalnya—entah melalui mimpi atau kesempatan "bertemu" yang begitu kecil jika dipikir-pikir. Aneh saja bagaimana dunia bisa menyatukan dua jiwa yang benar-benar terpisah tapi saling beresonansi antara satu sama lain.

Aku ingat betul rasanya jatuh cinta. Ketika aku jatuh cinta pertama kali dengan fotografi. Fokus meningkat. Momen menjadi begitu terasa lambat dan yang terasa hanya detak jantung yang semakin kencang di setiap milisecond-nya. Reaksiku hanya, "Woah... gini rasanya?" dan melanjutkan momen dengan senyum yang begitu lebar dengan mata berbinar. Hembusan napas begitu lega karena sedari tadi menahan napas yang cukup lama.

Atau jangan bilang kalian sudah lupa rasanya jatuh cinta?

Ok let's say kalian jatuh cinta dengan kehidupan, sudah pasti otomatis kamu akan meromantisasi segala hal yang terjadi di setiap harinya, dan tentu punya level of awareness yang lebih dari kebanyakan orang pada umumnya. Bahkan semut di depan kakimu sedang berjalan ke arahmu, kamu tau. Apalagi kicauan burung, bentuk awan yang begitu unik, sinar matahari yang menyelinap dari dedaunan dan menyentuh kulit, hembusan angin yang merdu, deru ombak yang begitu asyik di telinga. Sudah pasti kamu akan merasakannya. Bahkan tidak ada celah untuk memikirkan hal negatif karena terlalu sibuk dengan energi positif yang kamu rasakan di sekitarmu.

Apalagi? Cinta dengan diri sendiri? Berarti otomatis kamu akan menjaga tubuhmu dengan baik. Olahraga, makan-makanan yang bernutrisi, tidur yang cukup. Kadang saking cintanya dengan diri sendiri, ketika jatuh cinta dengan seseorang, kamu jatuh cinta pada pantulan dirimu yang ada dalam dirinya. Menjadikannya 0 attachment dalam mencintai. Sehingga kalau pun jika kalian tidak ditakdirkan, kalian masih punya pantulan diri kalian yang ada dalam beribu orang lainnya.

Nah, jika sudah tau rasanya jatuh cinta...

Maka, hati-hati dalam mencintai sesuatu. Karena biasanya... kebanyakan orang akan rush-in, dan punya obsesi untuk memiliki hal yang ia cintai. Sebetulnya hal ini bisa menjadi positif tergantung perspektif, tapi intuisiku bilang kebanyakan akan menjadi negatif. Terutama obsesi untuk memiliki, mendengarnya saja sudah membuatku muak. Karena sejatinya kamu tidak akan pernah betul-betul memiliki sesuatu, hidup atau mati. Tubuhmu saja bukan punyamu.

Balik lagi, segala hal yang berlebihan itu tidak baik. Walaupun sebetulnya dalam hati berkata: "Oh, my love… I want you so badly. Completely. Entirely mine. And I’m yours, I’m yours…"


Aku punya kebiasaan untuk menunda sesuatu. Delaying things seakan sudah mengalir secara natural dalam darahku. Apa pun ku-delay. Bahkan tulisan ini dan banyak karyaku lainnya. Dan, ya, mereka menumpuk di drafts. Saat aku memikirkannya, hal itu membuatku hidup, dan hanya akan kurilis saat yearning the moment aja. Basically, post to yearn, hahaha...

Asal kalian tau aja, kecilanku dulu, gendong tas ke mana-mana yang isinya penuh uang lembaran dari hasil sangu sekolah yang kukumpulkan sekian lama. Entah kenapa si anak kecil ini nggak ada keinginan sama sekali gitu untuk memakai uangnya jajan seperti anak pada umumnya. Aku punya kesenangan tersendiri aja gitu mengumpulkan sesuatu, lalu nantinya digunakan pada saat momen yang pas. Kayak makan snack waktu nonton misalnya. Inilah kenapa aku jarang banget jajan gedenya. Jadi kalau aku jajan berarti konsepnya makan. Ini termasuk delayed gratification, yang mana bagus, terlebih aku mendapatkannya secara natural sewaktu kecil dan terbawa sampai sekarang.

Delaying things membantuku membedakan, mana hal yang benar-benar aku inginkan dan mana yang hanya keinginan sesaat saja. Atau bisa jadi karena biar dilihat oleh orang lain aja.

Karena tau sendiri, kan? Ada orang yang melakukan sesuatu hanya karena ingin dilihat oleh orang lain, bukan karena memang dianya yang benar-benar menginginkannya.


Balik lagi, begitulah cinta, jika dia di-rush akan terasa sesak nantinya, dan tidak ada ruang untuk ia bisa bertumbuh. Maka beri jarak dan ruang supaya ia bisa bernapas dengan baik, menjadikan akarnya bertumbuh kuat dan bertahan lama. Yearn.

Aku suka sekali dengan langit, tapi tidak mungkin, kan, aku mengisi seluruh tubuh ini dengan langit. Aku ingin juga tentang diriku ada di sana. Bersamanya. Aku tidak ingin menghilangkan bagian diriku hanya untuk mencintaimu. Karena aku ingin bersamamu. (Even tho I'm the type of person that will do that honestly). Kayak, "Fill me up with everything about you until I’m drowning in it. I’m very much okay with it. At least I’ll die with your love." Hahaha... si kontradiksi berjalan berulah.

Di saat kebanyakan orang ketika jatuh cinta sangat terobsesi ingin memiliki, aku justru sebaliknya. 

Let's say aku jatuh cinta dengan seekor burung, tentu aku tidak ingin mengurungnya. Aku ingin melihatnya terbang bebas mengepakkan sayapnya dan menyaksikan sejauh mana ia akan terbang dan kembali kepadaku. Karena aku percaya dia akan kembali, maka aku tidak akan khawatir akan kehilangannya. Aku percaya dia bisa menjaga dirinya dengan baik sampai kembali lagi kepadaku. Aku. Percaya. Karena kalau kamu percaya sebesar itu pada sesuatu, kamu tidak akan mengkhawatirkan apa pun tentangnya.

Entahlah, rasanya tidak akan pernah habis aku berbicara tentang segala hal yang berbau romansa. Dan sejujurnya, masih banyak sekali drafts dari judul yang satu ini, kapan-kapan kusambung. Sekarang sudah jam 23:48, dan aku harus segera posting tulisan ini sebelum jam 24:00, kalau tidak, it'll be just another drafts, ugh.

Sweet dreams to you guys who are in love <3