Minimnya Pionir dalam Ranah Fotografi Indonesia

Minimnya Pionir di Ranah Fotografi Indonesia

Belakangan jiwa kreatifku lagi kebakar banget, terinspirasi dengan 1 anak random yang nggak sengaja lewat di beranda YouTube. Kontennya POV Street Photography, tapi beda banget sama yang lainnya. Karena dia juga ngejelasin komposisi fotonya seperti apa, dan apa makna di balik fotonya. Yang terpenting adalah kenapa dia ngambil foto itu? Which is, ini esensi street photography yang sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi. 

Gara-gara ini, gue jadi terinspirasi dan semangat banget kemarin ngeditin file-file video lama gue dari 2023 akhir yang belum ke-publish. Butuh 3 hari doang, dan langsung selesai saat itu juga. Rare Billy moment, karena fyi, jiwa prokastinasi mengalir secara natural dalam darahku, karena keinginan untuk perfeksionis dalam segala hal yang kukerjakan. Cara nge-counter-nya, ya, satu-satunya adalah dengan menentukan deadline dalam sebuah karya atau karena memang ada makna yang lagi gencar-gencarnya ingin disampaikan aja biasanya, seperti sekarang ini.

Balik lagi, alasan kenapa gue bikin tulisan ini adalah karena dalam proses 3 hari ngedit video kemarin dari tanggal 10-13 Mei, gue bingung nyari referensinya ke mana? Lantas terpikir... " Lah, iya, ya, emang siapa YouTuber fotografi Indonesia? Yang sering gue tonton", terutama yang aktif?

Minimnya Pionir di Ranah Fotografi Indonesia

Karena jujur... untuk YouTuber fotografi di Indonesia nggak terlalu banyak yang nyantol di ingatan, nggak ada kayak 1 pionir yang tercipta dari komunitas dunia itu sendiri terutama dari Indonesia, yang bisa dibilang "Peter McKinnon-nya" Indonesia gitu. Kalau di Australia ada tuh, NorthBorders. You know what I mean lah, kalo kalian juga seorang fotografer yang juga upload konten di YouTube.

Pionir itu menciptakan inspirasi yang membuat pengaruh ke industri. Entah itu dengan cara memberi inspirasi ke generasi baru, atau membuat industri menjadi menarik sehingga lebih relyable untuk content creator baru terjun juga ke dalamnya karena konten-kontennya yang menarik dan memotivasi.

Govinda Rumi, salah satu fotografer Indonesia juga sempat menanyakan hal ini di Twitter. 

" Guys, YouTuber fotografi Indonesia yang kalian sering tonton siapa aja, sih?

Gue paham kenapa dia menanyakan hal ini, karena memang... ketika mencari inspirasi, kita kadang rely on to something like this. "Someone to look up into". Untuk asupan referensi supaya membuat karya yang kita buat menjadi jauh lebih baik lagi. Dan, belakangan memang gue ngeliat Govinda Rumi lagi sering bikin video-video gitu dengan diimbuhi story telling.

Kadang ada tweet dia " Kok bisa kontennya street fotografi tapi yang bagus malah videonya, bukan fotonya." Nah, kalo dipikir-dipikir ini aneh juga, sih.

Lalu, Siapa Pionirnya?

Di pikiran gua jujur nggak terlalu ada sosok yang gue pikirkan pada saat pertanyaan ini dilontarkan. " Emang siapa YouTuber fotografer Indo? Yang sering ditonton", di otak gue selalunya... " Lah, iya juga, ya, siapa?", tapi sebenarnya... jauh dalam dalam lubuk hati gue, gue bisa jawab, bahwa pionir yang dimaksud otak gue sekarang mungkin adalah Ivan Alam Saputra.

Tapi tau sendiri, seperti kebanyakan makhluk idealis lainnya, dia jarang upload video di YouTube. Tapi, somehow lately... dia aktif anehnya. It's so rare to see Ivan Saputra Alam upload video per bulan, terlebih dengan jumlahnya yang lebih dari 1 video.

Memang it is time, sih, untuk kreator-kreator yang genuine keluar, karena orang udah pada bosen kali, ya? Dengan algoritma sekarang dengan apa-apa aja yang 'hits'. People nowadays want genuine stuff, dan memang justru sekarang saatnya. Bahkan ada orang di YouTube yang yapping deep talk no edit aja bisa ditonton banyak orang.

Platform sekarang juga kebanyakan udah pada ngebayar creator mereka, paid ke konten-konten mereka karena yang gue lihat memang shifting gitu, jadi sekarang nggak di YouTube doang creator bisa dapet duit. YouTube Reels, Threads, bahkan Facebook rata-rata udah pada bisa menghasilkan uang juga di sana dari konten yang mereka buat, karena outside YouTube kan kebanyakan orang rely on views, sementara itu nggak bisa diduitin, tapi sekarang bisa.

Kembali lagi ke pertanyaan yang ditanyakan Govinda Rumi di Twitter-nya. 

Jawaban-jawabannya: Darwis Triadi, Robbie Sumantri, Martha Suherman, Jerry Aurum, Andry Dilindra, Nyong Ricko, Ivan Saputra Alam, Aditya Key, Faizal Wescott, Notmegapixels, Jordi Farhansyah, Govinda Rumi, Beawiharta, Figandlight.

Terus ada juga yang reply, " gatau, gaada yang aktif banget soalnya". Nah, ini adalah exactly hal yang juga gue rasakan. Bukan cuma nggak begitu aktif, kayak rata-ratanya juga Mid dalam dunia creations. Yang top notch menurut gue sendiri satu-satunya adalah Ivan Saputra Alam.

Awal-awal ketika nyari topik tentang street fotografi di YouTube gitu ada rmdh, atau Nyong Ricko. Sebelum kenal mereka gue udah jauh kenal dengan Ivan Saputra Alam dari video dia yang ini, dia memang suka street fotografi, tapi rata-rata karyanya yang ada di Instagram lebih ke brandingan dia sebagai seorang videografer dengan perusahaannya Athea Visuals.

Kalo ada yang bilang Darwis Triadi, jujur aku kurang setuju, karena kurang relevan di era fotografi jaman sekarang. 

Juga memang ada fotografer besar Indonesia yang sudah berkarir di Internasional kayak Faizal Westcott contohnya. Tapi kan, jatuhnya dia adalah fotografer NYC jadinya. " An American Indonesian, living in Boston/NYC" dia juga niche-nya bermain di street photography.

Permasalahan dengan Konten Fotografi

Pribadi gue sendiri, jujur jarang ngeliatin konten-konten yang berbau fotografi meskipun gue sendiri ada di ranah fotografi, karena bosen aja, gitu. Gitu-gitu mulu kontennya. Nggak ada insight-nya, kadang asik sendiri POV Street Photography tanpa menjelaskan komposisi dan hanya menunjukkan hasilnya aja. Balik lagi ini POV dari seorang fotografer juga, ya. Mungkin emang buat dokumentasinya aja. Sama kayak gue ng-upload video yang waktu di Pelabuhan Rakyat Gresik kemarin, pure untuk dokumentasi pribadi aja.

Terlepas dari topik fotografi sendiri yang mangsa pasarnya memang sedikit, karena kalo dipikir-pikir yang mengkonsumsi kan, ya, kita-kita sendir, para kreator itu juga, yang mencoba mengambil referensi dari video-video yang kita tonton. 

Biasanya konten-konten street fotografi yang populer justru didominasi  bukan karena topik street fotografi itu sendiri, tapi siapa yang difoto di dalamnya yang membuat kontennya populer. Misalnya yang difoto adalah seorang yang cantik atau artis, misalnya BA Esports. Jadi bukan karena topik street fotografi itu sendiri tapi karena ada sesuatu yang 'hits' di dalamnya, makanya jadi naik kontennya . 

Keresahanku dengan banyaknya konten fotografi di YouTube adalah kadang semuanya serba cepat, nggak ada momen untuk mencoba mengapresiasinya, menjelaskan kenapa kamu mengambil foto itu? Supaya ada makna lebih di dalamnya.

Dia!

Sampai... aku bertemu dengan channel ini, Kevin Setiabudi, yang ternyata dia juga seorang fotografer asal Surabaya, se-regional ternyata kita! Waktu subscribe channel-nya, dia ada di angka 1.500. Nggak banyak, kan? Tapi, setelah gue lihat, dia udah create cukup banyak konten yang jauh lebih insightful, melebihi channel-channel fotografer besar kebanyakan. Ada effort lebih yang nggak banyak YouTuber fotografi Indonesia lakukan. 

Gue ngerasa dilibatkan dalam setiap proses kreatifnya, fotonya juga nggak yang bagus amat. Jelek, tapi justru karena itu bisa belajar bareng, tumbuh bareng dan nge-review supaya nggak melakukan kesalahan yang sama.

Banyak fotografer di luar sana yang fotonya bagus. Tapi, nggak banyak orang yang bisa menjelaskan sesuatu dengan baik, terlebih lagi nyaman dan enak untuk didengar, yang bikin penonton engage dan memperhatikan apa yang kamu buat lebih dalam lagi, dan membangun koneksi di sana. Ini adalah core pembedanya.

Cara dia menjelaskan juga simple, dan mudah dipahami oleh orang awam sekali pun, nggak banyak fotografer yang bisa kayak gini. Pandai untuk mejelaskan dan mengkritisi foto yang dia ambil sendiri. Gue aja dapat banyak insight setelah menonton video-videonya, padahal gue bisa dibilang jago dalam dunia fotografi. Tapi, cara dia menjelaskan ini kayak... menjelaskan sesuatu yang obvious yang sulit untuk dijelaskan, tapi dia jelaskan. Membuka hal yang biasanya nggak dijelaskan dan membuatnya menjadi asik untuk dipelajari.

Sampe sekarang geleng-geleng gua dengan cara dia menjelaskan komposisi foto-fotonya. Kayak ada script yang dia kerjakan hanya untuk menjelaskan 1 foto itu. Kayak, " Kok bisa, woe?!", kagum aja gitu dengan bagaimana cara ia menjelaskan foto-fotonya. Serius, nggak banyak memang orang yang bisa menjelaskan sesuatu, and you have to monetize this skill. Mahal, sumpah.

Aku bisa bilang dia ini one of a kind, sih. Aku aja bisa jadi sampai termotivasi untuk mengedit video-video POV lamaku gara-gara dia, serius. Kayak menyalakan api seniku lagi, dalam dunia video creation.

Aku akui, video-video POV street fotografiku memang kutujukan untuk diriku sendiri, sekedar dokumentasi aja, memang bukan untuk orang umum. Mangkanya biasa aja dan membosankan. Tapi kali ini, aku bisa bilang memang video ini kutujukan untuk orang umum.

Penutup

Efek dari pionir dalam suatu ranah itu besar. Pada masanya, fotografi portrait waktu itu, contohnya aja Brandon Woelfel di bidang portrait-nya, jadi tren style dia. Fotografer waktu itu ketika ngedit pada naikin Shadow di foto-foto mereka, wkwk. Tujuannya? Ya, supaya mirip dengan foto-foto Brandon Woelfel. Aku notice banget ini jaman dulu, karena aku juga ngelakuin hal yang sama juga. Ini adalah contoh foto yang dinaikkan shadow-nya terus ditambah dengan elemen confetti gitu khas Brandon Woelfel abis. 

Karya Stage Photography @Bilnsky Tahun 2018
Karyaku Tahun 2018

Coba liat videonya Ivan Saputra Alam di 7 tahun lalu. Itu juga terinspirasi dari Brandon Woelfel weh, hahaha...

Dan jangan lupa, bahwa tulisan ini ada dan dibuat juga karena awalnya gue terinspirasi dari videonya Kevin Setiabudi, fyi artikel ini ditulisnya pun nggak nyampe 2 jam, video kemaren yang gue buat nggak nyampe 3 hari, menunjukkan bahwa betapa feel inspired-nya gue saat ini karenanya. Karena serius, nggak banyak fotografer yang menjelaskan komposisi foto sepertinya, jadinya gue juga terinspirasi untuk ikut bikin juga. Sebesar itu efek dari pionir di dunia kreatif.

Pada dasarnya, pionir itu artinya orang pertama, yang memulai sesuatu sebelum orang lain. Bisa dibilang, dia yang ngebuka jalan, untuk hal-hal baru, atau jadi pelopor dalam bidang tertentu. Misalnya, orang yang pertama kali nyoba bikin sesuatu yang belum ada sebelumnya, atau yang berani melangkah lebih dulu pas orang lain masih ragu-ragu. Intinya, dia yang mulai duluan dan jadi penentu arah.

Pionir itu bukan cuma jadi yang pertama, tapi juga ngasih pengaruh yang bikin industri berubah. Mereka bisa jadi sumber inspirasi buat generasi baru, atau bikin industri itu sendiri kelihatan lebih menarik dan bisa diandalkan. Konten-konten yang mereka buat biasanya nggak cuma unik, tapi juga memotivasi banget, sampai-sampai bikin orang lain jadi pengen ikut terjun juga. Yang entah kenapa gue ngeliat ini di Kevin Setiabudi.

Belajar dari Vivian Maier

Belajar dari Kisah Vivian Maier
Vivian Maier, Undated
© The Estate of Vivian Maier, courtesy Collection John Maloof

Sebelum menemukan kisah dari seseorang yang bernama Vivian Maier, aku sebetulnya sudah sering melihat karya-karyanya di berbagai platform media sosial. Karena memang bertebaran di mana-mana, yang mana makin membuat rasa penasaran ini meningkat akan tentang sosoknya seperti apa.

Menyelami Kisah Vivian Maier

Belajar dari Kisah Vivian Maier
Vivian Maier, Chicago, 1956 
© The Estate of Vivian Maier, courtesy Collection John Maloof

Sudah sekitar sebulanan kayaknya aku enggak liat film. Film terakhir yang aku lihat sampai sekarang masih dengan documentary-nya Vivian Maier. Sengaja. Karena memang ingin yearning aja. Sayang kalau perasaan ini terlewat begitu saja. Karena aku jarang betul untuk rewatch sesuatu, ketika ingin rewatch sebuah film, di otakku pasti akan ada suara, "Hey, ada banyak film yang belum ditonton di luar sana, dan kamu memilih untuk rewatch?".

Tips Memotret Demo untuk Fotografer Jurnalistik Pemula

Tips Memotret Demo untuk Fotografer Jurnalistik Pemula

Belakangan ini, Indonesia sedang diwarnai gelombang aksi massa yang melibatkan mahasiswa dari berbagai daerah. Dari barat hingga timur, suara perlawanan terus menggema di jalan-jalan, menyuarakan keresahan terhadap berbagai kebijakan dan keputusan pemerintah yang dianggap merugikan banyak pihak.

Di tengah massa yang bersatu menyuarakan kegelisahan, gue sadar bahwa fotografi jurnalistik bukan sekedar teknik, tapi keberanian untuk hadir. Untuk menangkap emosi, perlawanan, harapan. Semua ada dalam satu frame. Demo bukan hanyalah keramaian. Ia adalah cerita. Dan tugas kita adalah mendengar, melalui cahaya dan bayangan.

Lewat artikel ini, gue ingin berbagi tips memotret demo untuk fotografer jurnalistik pemula yang bukan hanya dari sisi teknis, tapi juga etika, rasa, dan kesadaran. Biar kalian nggak cuma pulang bawa foto, tapi juga pemahaman dan rasa. Tentang bagaimana sebuah gambar bisa sangat berdampak. Tentang bagaimana kamera bisa menjadi sebuah suara.

Demo di Grahadi Surabaya kemarin, tanggal 24 Maret 2025, menyadarkanku akan banyak hal. Di tengah riuhnya orasi, lautan poster, dan denting ketegangan, aku menemukan diriku berdiri bukan sebagai peserta, bukan pula sebagai penonton, melainkan sebagai saksi. Tanpa rencana, aku menjelma menjadi fotografer jurnalistik dadakan. Kamera di tanganku bukan lagi sekedar alat, tapi jendela menuju narasi yang lebih dalam. 

Melihat apa-apa saja yang terjadi di lapangan, terlebih dengan keadaan gue yang tiba-tiba mendadak menjadi fotografer jurnalistik tanpa persiapan apa-apa menginspirasiku untuk berbagi tips memotret demonstrasi buat temen-temen pemula dalam dunia fotografi maupun jurnalistik yang ingin menyuarakan perlawanan lewat fotografi. Dan supaya kalian bisa mengabadikan momen penting demonstrasi dengan baik dan aman.


Tips Memotret Demo untuk Fotografi Jurnalistik Pemula

1. Pahami Konteks Demonstrasi

Pahami Konteks Demo: Fondasi Fotografi Jurnalistik

Ini adalah core/fondasi dari fotografi jurnaslistik. Sebelum memotret, hal pertama yang wajib kalian lakukan adalah memahami konteks demonstrasi. Apa yang sedang diperjuangkan? Dan siapa saja yang terlibat? Misalnya, demo tentang RUU TNI kemarin, cari tau tuntutan mereka, seperti penolakan terhadap perluasan wewenang militer di ranah sipil, kekhawatiran akan kembalinya dwifungsi TNI, atau desakan agar reformasi sektor pertahanan tetap dijaga. 

Sebagai fotografer jurnalistik, kita bukan massa yang dibayar cuma buat ikut-ikutan. Dengan memahami konteks, fotomu akan punya cerita yang kuat dan lebih bermakna, bukan sekedar jepretan acak tanpa ekspresi. Caranya? Coba lebih membaca perkembangan berita dari demonstrasi yang akan diadakan, cek postingan-postingan di 𝕏 karena di sini update-nya lebih cepat.


2. Riset Lokasi dan Rute

Selain konteks, riset tempat juga krusial. Ini adalah cara agar persiapan menjadi matang sebelum berangkat. Demo biasanya punya rute-rute tertentu, misalnya kemarin demonstrasi di Surabaya, dari Gedung Negara Grahadi Surabaya sampai Taman Air Mancur, bahkan sampai Plaza Surabaya. Cari tau titik kumpul massa ada di mana, jalur yang akan dilewati, dan potensi titik bentrokan berdasarkan aksi-aksi sebelumnya biasanya ada di bagian mana. Nggak usah jauh-jauh, deh. Mau parkir di mana aja dulu dari titik kumpul massa-nya.

Google Maps adalah teman hidupmu di sini. Selain itu, coba siapkan escape plan. Kalau-kalau situasi eskalasinya meningkat, misal, aparat mulai pakai gas air mata atau massa jadi ricuh, kalian harus tau ke mana kalian harus lari. Catat juga lokasi gang kecil, kafe terdekat, halte atau masjid yang bisa jadi tempat untuk berteduh sementara. Untungnya, kemarin ada masjid 8 menit jalan dari titik lokasi, jadi gue bisa jeda dan melepas penat sejenak dan berbuka puasa, supaya bisa kembali fokus untuk menangkap momen.


3. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD)

Safety first! Demo di Indonesia, terutama di 2025 ini, sering berpotensi represif. Coba liat aja aksi-aksi sebelumnya: water cannon, gas air mata, bahkan lemparan batu dari oknum dan massa bukan hal yang langka. 

Makanya, APD adalah wajib hukumnya. Minimal pakai helm konstruksi, masker anti-polusi (bukan masker kain biasa), dan kacamata pelindung kalau punya. Payung juga berguna, bukan cuma buat hujan, tapi buat melindungi kamera dari semprotan air atau benda jatuh. Oh, iya, jangan lupa bawa botol air dan handuk kecil, selain untuk minum, juga untuk bilas mata kalau kena water cannon atau gas air mata. Pengalaman kemarin mengajarkan, bahwa persiapan bisa menyelamatkan gear sekaligus nyawa!


4. Prioritaskan Keamanan Diri

Jangan jadi target! Keamanan diri nggak cuma soal APD, tapi juga penampilan. Pakai baju yang netral, cari tau dresscode warna dari demo, kaos polos hitam atau abu-abu, celana jeans, sepatu lari. Intinya hindari warna-warna yang mencolok atau atribut yang bisa dikira provokator. 

Pastikan kamera selalu dipegang erat dan pakai strap kamera yang nggak gampang copot. Simpan juga dompet dan HP di saku dalem, bukan tas punggung yang rawan untuk dirampas.



5. Pilih Gear yang Tepat

Bukan hanya memilih gear yang tepat, tapi juga yang simpel dan efektif. Soal peralatan, jangan bawa terlalu banyak. Yang simpel aja, ini demonstrasi bukan studio foto. Mobilitas adalah kunci. Bawa kamera mirrorless kalau ada, karena ringkas dan kecil bentuknya. 

Pastikan baterai penuh dan bawa cadangannya. Begitu pun juga memory card, pastikan cukup. Strap kamera yang kuat juga wajib biar nggak jatuh pas nanti lari. Oh iya, tas waterproof kecil bisa jadi penutup darurat kalau hujan atau kena water cannon.

Bayangkan betapa gilanya momen kemarin karena gue pakai lensa fix. Tapi lagi-lagi ini tergantung style-mu sebagai seorang fotografer. Jungler, Marksman, atau Fighter? Rekomendasiku:

  • Jungler: Lensa 24-70mm bisa jadi pertimbangan karena serba guna, bisa potret close-up wajah demonstran atau wide shot kerumunan. 
  • Marksman: Lensa tele (100-400mm), cocok kalau kamu tipe pengamat yang memotret dari jauh layaknya sniper, misalnya dari balkon atau pinggir jalan.  
  • Fighter: Lensa wide (16-35mm), pas buat ambil gambar dramatis dari tengah massa.

6. Jaga Privasi dan Etika

Hormati peserta demo. Demo adalah situasi sensitif. Gue baru sadar setelahnya bahwa peserta bisa jadi target aparat atau pihak tertentu kalau identitas mereka ketauan. Jadi, kalau ada wajah yang terlalu jelas di foto, lebih baik disensor, apalagi kalau mereka sedang melakukan aksi massa.

Caranya gampang, di Lightroom, pakai radial gradient di wajah subjek, lalu turunkan exposure-nya sampai gelap total atau turunkan sharpness/clarity-nya. Kalau buru-buru, crop aja bagian kepalanya. 

Etika lain: jangan provokasi massa demi dapet foto yang bagus. Misalnya, minta mereka teriak lebih kenceng atau bikin pose. Ini bukan jurnalistik, tapi memanipulasi cerita. Biarkan saja apa adanya, karena ini akan jauh lebih terasa.


7. Cari Angle dan Perspektif Unik

Cari Angle dan Perspektif Unik: Bikin Foto Beda

Bikin foto jadi beda! Fotografi jurnalistik bukan cuma dokumentasi, tapi juga seni dalam bercerita. Bagaimana cara kalian menyampaikan cerita lewat visual. Karena visual yang keren aja ngga cukup untuk memberikan impact. Perlu ada makna yang lebih dalam di baliknya. 

Di pengalaman demonstrasi kemarin ketika menggunakan lensa fix, jujur, susah untuk movement ke sana kemarinya, karena sesak dan ramai, jadi satu-satunya yang bisa gue andalkan adalah angle. Jadi, coba variasikan angle:

  • Low angle: Ambil foto dengan jongkok atau tiarap biar massa terlihat gagah dan powerful.  
  • High angle: Naik ke tempat tinggi (tangga, kendaraan, balkon) buat nunjukin skala besar demo.  
  • Detail shot: Zoom ke tangan yang sedang menggenggam poster, ketika sepatu berlumur, atau pilok atau coretan di tembok.

Kepekaan terhadap diri dan sekitar menjadi kunci di sini. Sabar dan terus awasi sekitar. Ketika menunggu momen gunakan mode burst shot yang bisa 5-15 frame per second ini akan sangat membantu. Posisikan sudut pandang menjadi demonstran supaya ekspresi emosi dalam penangkapan gambar bisa tersampaikan lebih dalam.


8. Hindari Malam

Hindari Malam: Pulang Sebelum Situasi Terlalu Memburuk

Pulang sebelum situasi terlalu memburuk. Waspada di waktu senja ke atas apalagi setelah jam 6 sore. Memang motret di waktu malam bikin foto keliatan lebih cinematic dengan cahaya lampu jalan dan kontras gelap-terangnya. Tapi, jam 6 sore ke atas adalah waktu yang rawan karena aparat biasanya mulai tegas untuk membubarkan kerumunan, massa bisa jadi panik, dan visibilitas kalian turun. Pengalaman kemarin, di jam 5.30 sudah mulai ada penangkapan massa. Kalau dirasa cukup, pulang, jangan memaksakan diri.


9. Hindari Aksi Solo

Berdua Lebih Aman: Hindari Aksi Solo

Berdua lebih aman. Terlebih untuk pemula yang ngga ada pengalaman, sendirian di demo itu resikonya tinggi, karena situasi bisa berubah drastis kapan aja. Di tengah kerumunan demonstrasi bukan cuma resiko fisik aja, tapi juga bisa ganggu fokusmu ketika mengabadikan momen-momen yang krusial. Coba minimal ajak satu temen, apalagi kalo temennya berpengalaman, dia bisa ngawasin situasi dan juga nolongin kalian kalau kena apa-apa nantinya. Jangan lupa untuk saling berkabar ketika terpisah, apalagi sinyal internet yang sering jelek di lokasi demo.


Siap Jadi Fotografer Jurnalistik?

Dari pemahaman konteks untuk memperdalam emosi, sampai persiapan gear dan juga etika, semuanya penting untuk bikin karya yang lebih bermakna sekaligus juga jaga diri. Fotografi jurnalistik itu enggak cuma soal skill, tapi juga butuh keberanian yang besar dan tanggung jawab. Itu aja tips dari gue. Stay safe semua!


Demo di Grahadi Surabaya: Emosi & Pelangi dalam Bidikanku

Ini adalah pengalaman pertamaku menjadi jurnalis fotografer di Gedung Grahadi Surabaya pada tanggal 24 Maret 2025. Demonstrasi (unjuk rasa) di Surabaya kali ini digelar untuk menolak pengesahan UU TNI, yang dianggap dapat mengembalikan peran militer ke dalam ranah sipil, ini mengingatkan kita pada era dwifungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) di masa Orde Baru. Dwifungsi ABRI memungkinkan militer ngga hanya berperan sebagai kekuatan pertahanan, tapi juga terlibat dalam politik dan pemerintahan, yang oleh banyak pihak dianggap membatasi supremasi sipil dan demokrasi.

Daftar Lengkap Spot Hunting Foto di Surabaya Update 2025

Spot Hunting Foto di Surabaya

Lagi nyari tempat atau spot foto/hunting di Surabaya? Tenang, ada banyak spot foto Surabaya dalam daftarku, karena kebetulan salah satu hobiku adalah fotografi, dan juga tinggal di Surabaya, jadi ketika lagi main bareng temen biasanya sekalian hunting foto, deh.